5.3 C
London
Wednesday, April 10, 2024
HomeDetik PolisiBangga !!! Penjual Air Isi Ulang di Bengkulu Bangga Putrinya Lolos Seleksi...

Bangga !!! Penjual Air Isi Ulang di Bengkulu Bangga Putrinya Lolos Seleksi Akpol

Date:

Related stories

Aksi Heroik Polisi di Tangerang Lumpuhkan Maling Modus Tukar Uang

Aksi Heroik Polisi di Tangerang Lumpuhkan Maling Modus Tukar...

Kadiv Humas Polri: Operasi Ketupat 2024 Wujudkan Mudik Ceria dan Penuh Makna

Kadiv Humas Polri: Operasi Ketupat 2024 Wujudkan Mudik Ceria...

Kadiv Humas Polri: Operasi Ketupat 2024 Wujudkan Mudik Ceria dan Penuh Makna

Kadiv Humas Polri: Operasi Ketupat 2024 Wujudkan Mudik Ceria...

Jalin Silahturahmi, TNI-Polri Gelar Buka Bersama di Jatim

Jalin Silahturahmi, TNI-Polri Gelar Buka Bersama di Jatim Dalam rangka...

Jalin Silahturahmi, TNI-Polri Gelar Buka Bersama di Jatim

Jalin Silahturahmi, TNI-Polri Gelar Buka Bersama di Jatim Dalam rangka...
spot_imgspot_img

Penjual Air Isi Ulang di Bengkulu Bangga Putrinya Lolos Seleksi Akpol

Ade Chandra dan Erni Wesih langsung menangis saat nama anaknya, Nyimas Fitria Amelia, tak disebut dalam Sidang Akhir Rekrutmen Akademi Kepolisian (Akpol) 2023. Mereka menangis bahagia.
Panitia Pusat Rekrutmen Akpol 2023 memang sebelumnya mengumumkan catar yang namanya disebutkan adalah yang tak lolos seleksi. Dengan tak disebutnya nama Nyimas Fitria Amelia, artinya dia lolos menjadi taruni Akpol.

“Nyimas itu sehari-harinya, alhamdulillah, dari pertama dia tes Bintara tahun kemarin dia tidak lulus. Kemudian untuk tahun 2023 ini saya suruh ikut tes Akpol sekalian, supaya tahu kualitas anak saya yang sebenarnya. Alhamdulillah tadi pengumuman terakhir, dinyatakan anak saya lulus jadi taruni Akpol 2023,” ucap Ade Chandra kepada detikcom di depan gedung serbaguna Akpol, Semarang, Jawa Tengah, Senin (24/7/2023).

Erni menambahkan Nyimas adalah anak yang patuh. Erni menyebut Nyimas tak pernah menuntut dirinya dan Ade Chandra.

“Alhamdulillah sehari-hari Nyimas itu menjadi anak yang solehah, anak yang patuh, tidak banyak menuntut orang tuanya. Pokoknya dia anak yang baik, nurut, itulah sehari-harinya dia,” timpal Erni.

Pasutri asal Bengkulu ini mengaku bahagia karena perjuangan Nyimas masuk Akpol akhirnya tak sia-sia. Nyimas disebut sungguh-sungguh belajar, lantaran tak ingin membebani kedua orang tuanya dengan biaya bimbingan belajar (bimbel).

“Setiap kekhawatiran (Nyimas tidak lolos seleksi) itu pasti ada. Tapi saya yakin kalau Nyimas ini bersungguh-sungguh belajar dan latihan, belajar-latihan. Tidak main-main, insyaallah perjuangannya tidak sia-sia,” tutur Ade Chandra.

“Terbukti dengan hari ini, anak saya lolos murni di Akpol 2023. Perjuangan Nyimas, alhamdulillah, dari gagalnya dia tes bintara tahun kemarin, saya sarankan untuk dia belajar, joging, belajar, joging. Alhamdulillah dia tidak mengikuti bimbel apa pun. dia belajar sendiri,” lanjut Ade Chandra.

Menyambung cerita Ade Chandra, sang istri menyampaikan dirinya selalu menemani Nyimas latihan. “Saya selalu menemani dia belajar, renang, lari. Pernah kami suruh (ikut bimbel), (kata nyimas) ‘Nggak usahlah, Ma, mahal. Biar kakak belajar sendiri’,” ucap Erni.

Ade Chandra. pun berulang kali mengucap syukur atas lolosnya Nyimas dalam seleksi Akpol. Dia mengapresiasi para panitia rekrutmen Akpol 2023.

“Alhamdulillah, kalau melihat dari kisah nyata anak saya ini, memang (rekrutmen) kepolisian bersih dan murni. Melihat anak saya lulus tidak ada embel-embel apa pun. Makanya saya tidak pernah mau menceritakan kepada siapa pun anak saya sedang tes masuk polisi. Nanti takut dinilai miring, karena kami keluarga tidak mampu,” ungkap Ade Chandra.

“Saya juga bilang anak saya kamu ikut tes Akpol, nggak usah cerita ke keluarga, tetangga, atau siapa pun. Nanti, setelah kami jadi, baru boleh kita ceritakan. Saya berucap syukur untuk panitia Akpol tahun ini saya anggap 100 persen bersih,” ungkap Ade Chandra.

Terakhir, dia sempat menceritakan dirinya kesulitan untuk membayar uang tes swab untuk Nyimas sebanyak Rp 65 ribu. Kala itu dia dan Nyimas datang ke klinik hanya dengan membawa Rp 50 ribu.

“Yang namanya saya nggak punya uang, nggak punya apa-apa, waktu kita mau swab terakhir, saya nggak punya uang, cuma punya 50 ribu. Karena tempat swab dekat rumah tutup, saya pindah ke tempat lain,” sebut dia.

Dia lalu harus pulang ke rumah bersama Nyimas untuk mencari-cari sisa uang receh. Hal itu menjadi salah satu momen yang diingat Ade Chandra, selama mendampingi perjuangan putrinya.

“Di tempat lain itu harganya Rp 65 ribu, kurang Rp 15 ribu. Sempat saya pulang ke rumah sama anak saya, cari uang recehan dulu di rumah. Dapat Rp 15 ribu lagi, untuk bayar swab,” pungkas Ade Chandra.

Subscribe

- Never miss a story with notifications

- Gain full access to our premium content

- Browse free from up to 5 devices at once

Latest stories

spot_img